Praktik Eksploitasi Anak di Era Medsos

advertise here
Salah satu anak yang menjadi selebgram

Priamuda.com ~ Barusan saya membaca jurnal tentang privasi anak di era media sosial, ditulis oleh Krisnawati (2016) dari Universitas Kristen Satya Wacana, dengan mengambil kasus pada 5 selebgram cilik Indonesia. 

Jurnal ini menarik dan membuat saya tertampar karena telah mengikuti, menyukai, dan mengunduh serta menyebarkan video salah satu dari 5 selebgram tersebut dengan-dalih-untuk-berbagi-kesenangan-dan-hiburan. Saya jadi merasa turut berkontribusi dalam aksi eksploitasi anak yang telah dilakukan oleh orangtua mereka sendiri. 

Hasil kajian menunjukkan: privasi anak yang menjadi objek penelitian telah hilang oleh motivasi orang tua mereka untuk berbagi "kebahagiaan", "kebanggaan", dan "inspirasi kepada orang lain (tanda petik itu berasal dari saya).

Memang tidak sepenuhnya buruk. Anak2 mereka menjadi lebih percaya diri karenanya. Anak-anak mereka menjadi terkenal, digemari banyak orang, dan mendapatkan doa, apresiasi, dan pujian. 

Tapi di sisi lain, anak-anak menjadi rawan dari aksi kejahatan seperti perdagangan dan penculikan anak misalnya. Karena kerap pula, orang tua mereka secara realtime memberitahukan keberadaan dan kesukaan anak-anak mereka kepada orang lain. Ini tentu bisa menjadi celah bagi mereka yang ingin berbuat jahat.

Selain itu, tuntutan panggung sebagai selebgram telah merenggut kebebasan bermain anak. Lihatlah pada anak2 yg menjadi selebgram, bagaimana kemudian mereka "dipaksa" oleh orang tuanya untuk mempromosikan produk-produk tertentu yang bahkan tidak benar-benar dimengerti oleh anak. 
___

Anak kecil sebenarnya juga punya privasi-yang-seharusnya-dijaga-terutama-oleh orang tuanya. Tapi semakin ke sini, orang tua semakin banyak yang berperilaku eksploitatif terhadap anaknya. Kehidupan keseharian anak difoto, divideokan, dengan dalih untuk koleksi dan dokumentasi keluarga. 

Tapi kemudian diunggah ke media sosial dan menjadi konsumsi publik. Dalam hal ini tentu tanpa seizin dan kehendak si anak. Lalu setelah itu, anak "diajak" untuk mencari "rezeki" dengan mengendors suatu produk. 

Bagi khalayak umum, wacana dalam jurnal ini jelas sangat menggangu. Namun tidak bagi mereka yang memang memiliki perhatian sedikit saja terhadap upaya perlindungan anak. 

Setidaknya, mereka akan jadi lebih berhati-hati dalam mempublikasikan foto-foto, video, dan aktivitas realtime anaknya.
____

Ada aksi, ada reaksi. Fenomena tersebut tentu tidak akan muncul jika tanpa diikuti oleh reaksi yang masif. 

Kita, bisa jadi juga telah turut berkontribusi dalam aksi eksploitasi tersebut, karena sudah mengikuti, mengomentari, dan mengunduh video tersebut untuk disebar-ulang ke orang lain. 

Sebab, ketenaran itu bisa menjadi candu. Terlebih apabila sudah ada efek ekonomi yang menyertainya. 

Yogya, 8 Mei 2018

Click to comment